Sinopsis Strong Woman Do Bong Soon Episode 2

Minggu, Februari 26th, 2017 - Sinopsis Korea

Sinopsis Strong Woman Do Bong Soon Episode 2  : Pembuat Onar Yang Konyol.

Content and Images Copyrights by JTBC

Sinopsis Woman Do Bong Soon Part 2

Sinopsis Strong Woman Do Bong Soon Hari IniStrong Woman Do Bong Soon –  Terjadilah keributan di kantor polisi setelah mendapatkan kabar penyerangan kembali terulang. Korban sekarang sudah dilarikan ke Rumah Sakit Universitas Hansae.

Keributan juga terjadi di warnet karena Bong Soon dan Gyeong Mi kalah dalam bermain game. Bong Soon menyuruhnya supaya menyerah saja main game, dia payah. Keduanya baru sadar kalau di warnet tinggal mereka berdua. Ahjumma penjaga warnet memberitahukan jika penyerangan pada seorang gadis kembali terjadi, ya ampun! Paniknya.

Para warga merubung tempat kejadian perkara sampai polisi menyuruh mereka supaya menjauh agar tidak menghalangi jalannya penyelidikan. Bong Soon dan Gyeong Mi memperhatikan dari kejauhan. Padangan Bong Soon terus terarah pada Gook Du yang tampak mondar-mandir seolah kecewa karena kecolongan hingga kembali jatuh korban.

Sinopsis Strong Woman Do Bong Soon

Sinopsis Strong Woman Do Bong Soon

Dengan pakaian serba hitam, Min Hyuk tengah sibuk memukuli samsak melatih tinjunya sambil mendengarkan berita korban penyerangan Nona Kim. Seusai berlatih, ia memperhatikan berita tersebut dengan serius.

Korban penyerangan masih terbaring di rumah sakit tak sadarkan diri. Gook Du masih terus berada di TKP, dia seolah sangat menyesal karena penjahat itu melakukan penyerangat saat ia baru saja pergi dari sana. Seniornya menegurnya yang sudah datang ke TKP sendirian, apa dia sudah gila.

“Ini adalah lingkungan tempat tinggalku, jadi aku sedang pulang ke rumah untuk ganti baju.” Ujar Gook Du.

Senior bilang kalau ditempat penyerangan tidak ada rekaman CCTV maupun dashcam. Gook Du menduga jika pelaku sangat tahu betul tempat ini. Beruntung saja, ada seorang saksi yang datang sehingga pelaku kabur sebelum berhasil membunuh korbannya.

Seorang saksi tengah di introgasi. Saksi itu mengaku jika dirinya baru pulang bekerja dan berjalan di komplek itu. Dia mendengar pekikan meminta tolong dan ketika ia melihatnya, pelaku tengah menendangi korban. Saat ia mendekatinya, pelaku langsung kabur.

Saksi menyebutkan jika ciri-ciri pelaku yaitu memakai hoodie hitam, celana hitam dan tingginya kira-kira 180 cm. Detektif bertanya apakah saksi melihat wajahnya? Apa dia punya fitur khas?

Saksi mengaku tak melihatnya dengan jelas, tapi pelaku mempunyai kaki yang besar.

Sedangkan di rumah sakit, korban penyerangan terus menerima pantauan dari dokter dan polisi menjaga kamarnya 24 jam.

Gyeong Mi dan Bong Soon masih membahas masalah penyerangan pada gadis tadi. Mereka sangat prihatin dengan korban yang pastinya sangat ketakutan. Gyeong Mi menyarankan agar Bong Soon memberikan pelajaran untuk orang semacam itu, pasti akan berhasil jika dia yang melakukannya. Bong Soon bersender dibahu Gyeong Mi, kalau dia melakukannya maka dirinya dalam masalah.

Ditengah jalan pulang, keduanya melihat sekelompok anak tengah membully temannya. Bong Soon tak bisa diam, dia menegur mereka supaya bergegas pulang soalnya banyak polisi patroli malam ini. Anak-anak SMA itu tidak perduli dan menyuruhnya tidak usah ikut campur. Kenapa tidak dia saja yang pulang?

“Kalau begitu biarkan siswa yang di sana pulang duluan.” Bong Soon masih berusaha manis.

“J*l*ng ini. Kalau mabuk pulang saja sana!” umpat salah satu dari mereka.

Tak bisa membiarkan yang satu ini, Bong Soon menantang yang terkuat disana. Mereka cuma menertawakan Bong Soon, memangnya dia kira punya nyawa 18. Gyeong Mi mencoba memperingatkan mereka supaya minta maaf dan pulang. Tapi anak-anak itu masih terus cekakan mengejek Bong Soon.

Bong Soon menghampiri salah satu dari mereka, dia membenarkan ikatan tali sepatunya dan mengikatnya dengan sangat-sangat erat sampai terdengar suara tulang gemeretak. Anak itu meringis kesakitan. Tak sampai disitu, Bong Soon juga menarik sepatu anak tadi sampai sobek.

Bong Soon menyuruh anak yang di bully untuk memberikan nomornya. Telfon saja dia kalau anak-anak itu kembali berulah padanya. Dengan sayang, Bong Soon menasehati anak tadi supaya belajar yang rajin dan masuk perguruan tinggi. Hidup akan sulit kalau seperti dirinya.

“Jika aku melihat kalian semua lagi. Nanti jari kakimu yang akan kena, lalu kakimu, dan lalu…” Bong Soon menatap ke arah tempat sensitif mereka, kontan anak-anak itu menutupinya dengan ngeri “menurut kalian selanjutnya apa?” tanyanya dengan cengiran penuh arti.

Anak-anak pembully tadi langsung nangis setelah Bong Soon pergi meninggalkan mereka.

Hari berganti. Berita penyerangan kembali menjadi topik berita pagi, menindak lanjuti penyerangan tersebut, polisi menambahkan kamera CCTV disekitar tempat tersebut. Polisi berupaya untuk menangkap pelaku namun kemukinan akan sulit melakukannya.

Dikantornya, Min Hyuk memeriksa foto hasil jepretan helicam kemarin. Dia melihat plat nomor motor itu adalah 448. Dia menyuruh seseorang untuk melacak plat nomor tersebut.

Hasil pemeriksaan forensik sudah keluar. Pelaku diduga punya tinggi 172 dengan berat bada 48, sangat kurus. Melihat luka-luka ditangan korban, mereka menduga jika korban melawan terus. Pelaku kemudian memukuli wajahnya dan mulai menjatuhkan pisaunya. Dia memegang pisaunya dengan salah sehingga menyebabkan luka seperti ini.

Mereka menyimpulkan jika pelaku tidak ahli dalam menggunakan pisau. Antara penyerangan yang pertama dan kedua, kemungkinan mereka dua pelaku yang berbeda. Pelaku yang ini tidak menggunakan pisau.

Gook Du tidak sependapat dengan mereka, pelaku kasus pertama juga tidak memulai penyerangan menggunakan pisau. Mungkin dia kehilangan kesempatan karena saksi lewat sana.

“Bukan seperti itu. Bisa saja ia bingung apakah ia harus menggunakan tangannya saja karena dia tidak terlalu ahli menggunakan pisau.” Ucap yang lain.

Ketua Penyelidikan menyudahi pekerjaan mereka dan membiarkan mereka beristirahan. Ia mengintruksikan pada Gook Du untuk berjaga di rumah sakit.

Gook Du memeriksa kondiri korban di ruang pasien. Dia melihat-lihat foto luka pada tubuh korban pembunuhan pertama dan membandingkan dengan luka Nona Kim. Goresan lukanya mirip. Namun ia menemukan sebuah kejanggalan. Luka yang dibuat oleh pelaku tidak terlalu dalam dan bukan dibagian vital. Ia menduga jika pelaku hanya menginginkan korban pingsan, dia tak berniat membunuhnya sejak awal.

Saat memasuki rumah sakit, Bong Soon tanpa sengaja berpapasan dengan seorang dokter yang mengenakan masker. Bong Soon sama sekali tak menyadari apapun sedangkan dokter itu sempat menatapnya.

Sekretaris Gong terpaksa harus tengkurap terus menerus. Dia jengkel seketika mendengar suara Bong Soon menjenguknya. Bong Soon langsung ngoceh, mengatakan kasihan melihat kondisi Sekretaris Gong. Dia tidak bisa membaik dengan cepat karena tulang ekor tidak bisa di gips.

Sekretaris Gong teriak-teriak tak mau mendengarkan ocehan Bong Soon. Bong Soon berkata jika ada satu obat mujarab untuk masalah ini. Dia menyarankan agar Sekretaris Gong minum wine kotoran, seperti namanya, wine itu terbuat dari kotoran. Neneknya dulu sering membuat orang terluka makanya dia tahu cara membuatnya.

Sekretaris Gong mengira kalau ucapan Bong Soon cuma omong kosong. Dia menyuruhnya supaya pergi. Pantat Sekretaris Gong terus gerak-gerak karena teriak-teriak apalagi Bong Soon terus saja menawarinya wine kotoran. “Maafkan aku yah. Maafkan aku”

Sekeluarnya dari kamar Sekretaris Gong, Bong Soon masih menggerutu sebal karena Min Hyuk menyuruhnya datang ke rumah sakit padahal dia bisa datang sendiri kesana. Atasan selalu saja menyalahgunakan wewenangnya. Namun kemurungan Bong Soon langsung berubah seketika saat ia melihat Gook Du tak jauh darisana. Wajah Gook Du tampak bersinar dimata Bong Soon, bahkan menatapnya sudah membuat Bong Soon serasa ada di musim gugur dengan kelopak bunga sakura berjatuhan.

Ia pun menelfonnya dan dengan manis mengatakan jika ia berada dirumah sakit mengunjungi seseorang. Dan ia melihatnya. Gook Du celingukan, dia membalas dengan dingin “Aku juga melihatmu.”

Bong Soon pun berjalan menghampiri Gook Du. Bertepatan saat itu, seorang dokter berkaca mata masuk ke ruang korban. Ketika Gook Du tak mengawasinya dan sibuk ngobrol dengan Bong Soon, dokter itu menyuntikkan cairan ke lengan korban.

Dokter itu keluar dan Gook Du sempat memperhatikan Dokter itu.

Bong Soon menjelaskan jika ia datang ke rumah sakit untuk menjenguk seseorang yang ia kenal. Tulang ekornya patah setelah beradu game kaki ayam. Gook Du mengernyit heran, dia beradu denganmu? Bagaimana bisa sampai seperti itu.

Bong Soon mengelak, bukan beradu dengannya. Gook Du meminta bantuan Bong Soon untuk menjaga kamar korban sebentar. Dia mau pergi ke toilet. Segera hubungi dia kalau ada orang lain selain perawat atau dokter masuk ke sana. Bong Soon mengerti.

Disaat kepergian Gook Du, korban tiba-tiba mengalami kejang dan alat pendeteksi jantung langsung berbunyi nyaring. Bong Soon kebingungan mengintip dalam ruangan. Belum sempat memanggil dokter, seorang dokter sudah masuk kesana duluan. Dia memindahkan pasien dengan alasan dia kritis saat ini dan harus dioperasi.

Ia memerintahkan Bong Soon untuk segera menghubungi polisi yang mengawasinya. Bong Soon yang panik cuma mengiyakan ucapan si Dokter.

Tidak berselang lama, Gook Du kembali ke kamar pasein dan mendapati kamarnya sudah kosong. Bong Soon menjelaskan jika pasien tadi sudah dibawa dokter ke ruang operasi. Namun Dokter yang sesungguhnya baru datang dan mempertanyakan keberadaan pasien. Bong Soon bingung, tadi dokter sudah datang kesaan saat alarmnya berbunyi dan membawanya pergi.

“Apa yang Anda bicarakan? Aku berada di ruang operasi sampai tadi.”

“Suara anda berbeda dengan tadi.”

Gook Du langsung tanggap jika tadi cuma Dokter gadungan. Dia pun ingat jika sebelumnya berselisih arah dengan dokter itu. Ia langsung berlari mencari lift, tapi sayangnya semua lift penuh hingga dia terpaksa memakai tangga. Dia menghubungi ke kantor untuk memberitahukan jika pelaku muncul dan telah membawa kabur korban.

Sedangkan di ruang gelap, pelaku terdengar sedang bersenandung ceria sambil mengganti pakaian. Terdengar pula suara tawanya yang mengerikan, sungguh. Gook Du akhirnya sampai ditempat yang sama dengan pelaku, tapi dia tak bisa mengenalinya.

Gook Du baru menyadarinya ketika pelaku membawa korban keluar rumah sakit menggunakan kursi roda. Sesampainya diluar, dia melihat kursi roda sudah tergeletak didekat pintu tempat parkir. Namun celakanya, ketika sampai ditempat parkir, dia sudah terlambat dan pelaku berhasil kabur menggunakan mobilnya.

Gook Du menggeram penuh kekesalan karena lagi-lagi dikelabuhi oleh pelaku.

Gook Du memeriksa CCTV di rumah sakit dan menemukan rekaman saat pelaku membawa kabur korban. Dia kontan menggebrak meja, saking kesalnya dengan pelaku ini. Sedangkan Bong Soon ikut bersamanya, dia tertunduk merasa bersalah.

Disebuah gedung kumuh dengan banyak jendela, tampak ada proyektor yang terarah ke dinding menunjukkan gambar tangan lemah yang mengetuk-ngetuk jendela. Tidak lama berselang, pelaku sampai disana dengan membawa Nona Kim Ji Won.

Pelaku menggunakan topeng mengerikan, meletakkan tubuh Nona Kim diranjang kemudian mulai melepas kancing bajunya.

Bong Soon masih terus merasa bersalah dan meminta maaf pada Gook Du. Dia khawatir apakah wanita itu akan baik-baik saja. Gook Du meyakinkan jika ini bukanlah kesalahan Bong Soon. Dia yakin kalau pelaku tidak akan membunuh wanita itu, dia akan menemukannya bagaimanapun caranya.

Entah bisa membantu atau tidak, Bong Soon mengaku kalau dia mendengar suara pelaku dan mungkin dia bisa mengenalinya jika mendengarnya lagi. Gook Du memastikan apa dia yakin? Bong Soon mengangguk. Gook Du akan kembali ke kantor polisi, dia meminta Bong Soon untuk segera pulang.

Khawatir, ia berbalik menawarkan taksi untuk Bong Soon. Bong Soon masih terus tertunduk, merasa sangat amat bersalah. Gook Du memegang lengannya, meyakinkan jika semua ini bukanlah salah. Bong Soon mengangguk tapi wajahnya tetap tak bisa menyembunyikan perasaannya.

Pelaku terus memandangi Nona Kim yang sudah mengenakan pakaian pengantin saat ini. Ia mengusap pipinya, membelai rambutnya kemudian menyuntikkan cairan ke lengannya lagi.

Dalam perjalanan pulang, Bong Soon masih mengkhawatirkan Gook Du yang kemungkinan kena marah atasannya.

Gook Du memang kena damprat atasannya, korban sampai diculik padahal ada polisi yang mengawalnya. Mereka semua bisa dipecat. Gook Du terus terdiam mendengarkan omelan Ketua Tim. Temannya yang lain menggeram kesal, dia yakin kalau pelaku sangatlah handal. Mereka harus menggunakan otak, bahkan di TKP tak ada sidik jari satu pun.

“Aku perlu izin supaya saksi dapat dilindungi. Temanku, Do Bong Soon. Orang itu melihat wajahnya.”

Nama itu terdengar familier, mereka langsung ingat dengan Nona Avengers. Dia bisa mengalahkan 7 preman, untuk apa melindunginya. Gook Du masih berkeras supaya mereka memberikan perlindungan pada Bong Soon, dia hanya wanita yang tidak berdaya.

Bong Soon memandangi langit penuh bintang, ia masih belum bisa berhenti mengkhawatirkan korban yang diculik. Bong Ki menegurnya, kenapa dia belum masuk ke rumah. Bong Soon bertanya-tanya, apakah dia akan baik-baik saja. Kalau memang pelaku berniat membunuhnya, dia tidak akan menculiknya kan?

“Dia masih membutuhkan perawatan, juga. Aku jadi mengkhawatirkannya.” Ucap Bong Ki.

Bong Soon semakin merasa tak berguna, disaat seperti ini, kekuatan supernya tidak bisa digunakan. Ia berharap bisa melakukan sesuatu. Bong Ki kasihan dengan saudara kembarnya yang tampak sangat terpuruk, ia menyentuh pundaknya menenangkan. Bertepatan saat itu pula, tampak ada sebuah bintang jatuh dilangit.

Keesokan harinya, Bong Soon melaksanakan tugasnya sebagai bodyguard Min Hyuk dan mengecek agendanya hari ini. Min Hyuk menggunakan hoverboard seperti biasanya, dia tampak senang karena hari ini tidak mendapatkan pesan ancaman lagi. Pasti kemampuan meretasnya payah, dia sudah ganti password dan dia tak bisa meretasnya lagi.

Ia mendengar ada insiden lain didekat rumah Bong Soon, apa benar? Bong Soon membenarkan dan korbannya diculik saat ia berada di rumah sakit. Min Hyuk terkejut, ia langsung menyalakan TV-nya yang tengah menyiarkan kasus itu.

Min Hyuk tersenyum, merasa jika kasus ini sangatlah menarik. Bong Soon heran, bagaimana bisa kriminalitas dianggap menarik. Min Hyuk mengerti dan berharap jika pelaku tertangkap, tapi polisi mungkin tidak mampu. Karena pelaku lebih pintar dari mereka. Ia bertanya-tanya, kenapa pelaku membunuh korban pertama dan membiarkan yang kedua tetap hidup?

“Apa menurutmu, pelaku itu orang yang sama, di balik kedua insiden ini? Polisi mengatakan bahwa itu bukan orang yang sama.”

Min Hyuk tetap meyakini jika pelaku adalah orang yang sama. Bong Soon lihat diberita, kata profiler, pembunuh kedua ingin menunjukkan jika dirinya lebih berbahaya dari pembunuh pertama dan sengaja merusak TKP pembunuhan pertama. Min Hyuk tidak sependapat, dia yakin kalau polisi sudah mengumpulkan bukti-bukti di TKP saat pembunuhan pertama. Lalu apa untungnya pembunuh kedua menghancurkan TKP?

Kenapa dia tidak membunuhnya? Min Hyuk berpendapat jika pelaku sejak awal memang tidak berencana melakukan pembunuhan. Kalau memang niatnya membunuh, sejak awal dia akan menikah jantung atau menusuk leher lebih dalam. Dia juga tidak berniat melakukan kejahatan seksual, dia hanya mengancam menggunakan pisaunya karena korban melawan. Pelaku itu tidak tahu caranya menggunakan pisau, makanya tanpa sengaja membunuh korbannya.

“Kenapa kau jadi tahu banyak begini? Rasanya, kau sama saja dengan seorang kriminal.”

“Karena sejak kecil, impianku adalah menjadi seorang penjahat.” Ucap Min Hyuk. (plus backsound BAM!)

Bong Soon menyipitkan matanya aneh dan bertanya maksud ucapannya. Namun Min Hyuk mengalihkan pembicaraan dengan membahas masalah Sekretaris Gong. Tidak lama kemudian, ponsel Bong Soon berdering menerima panggilan dari Gook Du. Bong Soon menerimanya dengan manis “Hei, Gook Du.”

Gook Du mengatakan jika seseorang akan mengawal Bong Soon. Bong Soon menolaknya karena dia akan bekerja. Tapi tetap saja, Gook Du ingin melaksanakan obstruksi keadilan. Lakukan saja apa yang ia katakan.

“Dimana kau sekarang?”

“Gook Du, aku sekarang mendapatkan pekerjaan. Aku bekerja sebagai Sekretaris di Ainsoft.”

“Benarkah? Kalau begitu, kau akan berada di gedung perusahaan sepanjang hari?”

“Tidak. Presdirku orang yang sangat sibuk.” Bong Soon melirik ke arah Min Hyuk dengan sinis.

Min Hyuk kontan mengorek kupingnya, sepertinya ada yang membicarakan hal buruk tentangnya. Sebelum mengakhiri panggilan, Bong Soon mengingatkan supaya Gook Du tidak lupa makan. Gook Du menanggapi dingin “tentu”.

“Siapa itu?” tanya Min Hyuk.

“Temanku, yang lulus sebagai murid terpintar kelasnya di akademi polisi.”

“In Gook Du?”

Bong Soon kaget karena bos-nya tahu nama temannya. Min Hyuk dengan enteng menirukan gaya bicara Bong Soon pada Gook Du dengan manis manja, dia dengar namanya tadi. Mereka juga sempat bertemu sebelumnya di kantor polisi. Min Hyuk sampai heran kenapa cara bicara Bong Soon berbeda sekali antara dengan dia dan dengan Gook Du?

Tentu saja beda, dia kan teman sedangkan Min Hyuk adalah bosnya. Min Hyuk malah merasa terbalik, Bong Soon seperti memperlakukan Min Hyuk sebagai bos dan memperlakukannya seperti sampah.

“Itu tidak benar. Hanya firasatmu saja.” Elak Bong Soon.

Min Hyuk menebak kalau Bong Soon menyukai polisi itu. Bong Soon sampai kaget, bagaimana dia bisa tahu. Ya sudah jelas tahu, Min Hyuk bisa melihat jelas dari wajahnya. Yah.. meskipun begitu, dia mengakui jika polisi itu tampan.

“Dia adalah…” Bong Soon berbunga-bunga.

“Dia adalah tipeku.” Sela Min Hyuk “Pria tidak akan tertarik padamu jika kau menunjukkan perasaanmu terlalu jelas. Dan aku yakin itu terlihat sangat jelas di matanya, karena aku menyadari itu juga.”

Bong Soon ingat kalau sebelumnya Min Hyuk bilang benci polisi. Min Hyuk mengiyakan, tapi dia tidak membenci polisi yang seksi.

“Maaf, tapi sepertinya polisi akan mengikuti kita.”

“Kenapa?”

Bong Soon mengedipkan mata tak bisa menjawab.

Tak lama kemudian, Min Hyuk cuma bisa bengong melihat ada polisi yang kini mengawal Bong Soon. Dia sampai sebal bukan kepalang, dia mencoba membujuknya supaya berhenti mengikuti Bong Soon. Lagipula wanita itu lebih kuat dibandingkan dirinya, coba saja adu pancu atau semacamnya dengan dia.

“Aku sedang menjalankan tugas sekarang. Permisi.” Ucap sang polisi kembali berdiri dibelakang Bong Soon.

Min Hyuk sampai bete banget, dia pun bergegas pergi sambil terus berdecak kesal.

Dalam perjalanan, Min Hyuk masih saja terus membahas game adu kaki dengan Sekretaris Gong dan membuat tulang ekornya patah. Dia sebenarnya ingin membuat Pak Polisi berhenti mengikuti mereka tapi Pak Polisi tetap akan mengawal Bong Soon sampai ada perintah selanjutnya.
Min Hyuk bener-bener makin sebel sama polisi. Alasan pertama karena mereka setia. Kedua, bertindak hanya berdasarkan fakta. Ketiga, mereka melakukan hal tidak berguna macam ini. Keempat, dia tak mendengarkannya. Sialan! Umpat Min Hyuk.

Ditempat penyekapan, pelaku tengah mengompres Nona Kim. Nona Kim tersadar dengan tangan yang sudah diborgol, sudah barang tentu dia tak bisa menahan rasa ketakutannya. Ia memekik ketakutan dan membuat pelaku kesal. Dia bersiap memukulkan kursi padanya, tapi dia membatalkan niatnya. Dia mengklaim jika Nona Kim adalah pengantin pertamanya. Dia bahkan sudah susah payah menyelamatkannya dan membawanya kemari.

Jadi dia menyuruh Nona Kim untuk diam. Dia kemudian memotret Nona Kim dan memajangnya di dinding menggunakan bingkai. Disana ada beberapa bingkai yang masih kosong, hanya satu bingkai saja yang terisi. Tandanya pelaku mungkin akan mengincar korban selanjutnya.

Min Hyuk tengah menghadiri acara seminar. Bong Soon waspada memperhatikan orang-orang yang ada disana. Dan ketika ia menoleh ke arah pintu, tampak seseorang menggunakan masker dan tengah menatap Min Hyuk. Bertepatan saat itu, acara seminar berakhir dan Bong Soon bergegas keluar mengejar pria bermasker.

Pak Polisi spontan ikut membuntuti Bong Soon. Bong Soon sampai kesal, dia menyuruhnya supaya jangan mengikutinya. Dia baik-baik saja. Tapi Pak Polisi tetap berpegang teguh pada tugasnya dan akan tetap mengikuti Bong Soon.

Min Hyuk berjalan menuju ke toilet. Karena khawatir, Bong Soon ingin mengawalnya tapi Min Hyuk melarang. Memangnya dia mau masuk ke toilet pria? Ia pun mengajak Pak Polisi untuk masuk bersamanya.

Didalam, Min Hyuk masih terus membujuk Pak Polisi supaya adu kaki dengan Bong Soon. Tapi dia masih saja tak menggubris. Min Hyuk kemudian membahas masalah penculikan gadis, dia yakin kalau pelaku tak akan membunuhnya. Tak usah buang-buang waktu untuk menyelidikinya.

Diluar, Bong Soon yang merasa bertanggung jawab pun tetap berjaga di depan pintu. Namun saat itu juga, dia kembali melihat pria menggunakan masker yang mencurigakan. Dia pun langsung mengejarnya.

Min Hyuk selesai buang air dan tengah mencuci tangan. Seorang pria berkaca mata tampak menghampiri Pak Polisi.

Min Hyuk mencari-cari Bong Soon diluar tapi Bong Soon malah menghilang entah kemana. “Do Bong Soon!” panggilnya.

Bong Soon menyahut dan bergegas kembali menemui Min Hyuk. Dia mengaku baru saja melihat pria bermasker. Min Hyuk langsung mengatainya memangnya semua penjahat memakai masker, bisa saja berpenampilan seperti biasa. Min Hyuk tertegun menoleh ke arah toilet, kenapa Pak Polisi belum keluar?

Dia panik masuk ke toilet dan sempat berpapasan dengan pria berkacamata hitam. Namun Min Hyuk yang panik tak memusingkan pria itu. Ia berlari menuju ke toilet dan menemukan Pak Polisi sudah terduduk dengan luka tikam diperutnya. “Cepat panggil 911.”

Bong Soon dengan panik pun menghubungi ambulans.

Mereka berdua sudah membawa Pak Polisi ke rumah sakit. Bong Soon merasa tidak becus dalam menjalankan tugasnya sampai ini terjadi. Min Hyuk tidak menyalahkannya, dia sengaja memperkerjakan Bong Soon untuk membuatnya merasa aman. Dia tak menyangka jika hal semacam ini bisa terjadi. Ia sepertinya ingin memecat Bong Soon saja.

Bong Soon menolak, dia bahkan merasa keselamatan Min Hyuk lebih penting daripada dirinya. Ia berjanji akan melindunginya. Tapi siapa kira-kira yang Presdir curigai sebagai pelakunya?

Min Hyuk tidak bisa menduga sama sekali, keluarganya, saingan bisnisnya atau mungkin pemain gamenya juga bisa melakukan ini padanya. Terlalu banyak potensi yang bisa menjadi tersangka. Karena satu-satunya keluarga yang ia percayai adalah kakak tertua keduanya. Ibu resminya sebenarnya bukan ibu kandungnya.

Ia mencoba mandiri dengan membangun Ainsoft sendiri. Tapi ayahnya malah melihatnya punya potensi dan mewariskan kekayaannya padanya. Semenjak saat itu, semua anggota keluarga memusuhinya.

“Aku akan menangkap mereka, siapapun itu.” Janji Bong Soon.

Dokter menyatakan jika Pak Polisi tidak mengalami luka yang dalam. Dia akan membaik setelah lukanya dijahit dan disterilkan. Mereka berdua pun bisa menghembuskan nafas lega sekarang.
Disebuah tempat yang tenang, seorang wanita dengan anggun memainkan cello. Ia tampak menghayati alunan musiknya. Seusai latihan, wanita yang bernama Hee Jin itu memperhatikan tangannya yang agak sakit karena berlatih terlalu lama. Bertepatan saat itu juga, ponselnya berdering menerima panggilan dari Gook Du.
Dia pun menemui Gook Du di cafe. Meskipun berpacaran, mereka berdua seolah masih canggung satu sama lain. Hari ini mereka akan merayakan hari ke-100 mereka. Hee Jin rasa Gook Du belakangan ini sangat sibuk. Gook Du meminta maaf, ada kasus yang membuatnya harus lembur di kantor. Dia juga masih harus kembali esok pagi. Ia meminta maaf karenanya.

“Tidak apa-apa. Jangan khawatir tentang hal itu.” Ucap Hee Jin. Meskipun wajahnya masih menunjukkan gurat kekecewaan.

Dalam perjalanan, Min Hyuk dengan serius menyuruh Bong Soon untuk tidur dirumahnya. Mereka bisa saling melindungi satu sama lain. Bagaimana? Bong Soon tidak merespon ucapannya. Min Hyuk langsung tertawa garing menyuruh Bong Soon tak usah berfikir terlalu tinggi. Tak usah berfikiran ‘hal semacam itu’ akan terjadi. Bersihkan pikiran kotornya!

“Aku berharap apa?” polos Bong Soon.

“Kau tahu, hal-hal yang terjadi ketika seorang pria dan seorang wanita bersama-sama.”

Bong Soon menolak dengan tegas ajakannya. Min Hyuk heran dengan kemisteriusannya, apa dia tak pernah berfikir untuk menggodanya sekali saja. Mungkin rumah miliknya bisa menjadi milik Bong Soon. Bong Soon sekali lagi menolak, menurutnya sumbernya mengatakan jika Min Hyuk tidak menyukai wanita.

“Memangnya kau wanita?”

“Kau pikir aku pria?” sentak Bong Soon.

Min Hyuk memperingatkan jika dalam kotrak tertera kalau Bong Soon harus menuruti perintahnya. Lagipula dia takut kalau ada penjahat menerobos masuk kerumahnya. Bong Soon bersikeras menolak, lagian dia tak tahu kalau menginap dirumanya juga termasuk. Pokoknya dia mau pulang! Keluarganya adalah keluarga yang konservatif.

Gook Du tengah makan bersama dengan Hee Jin. Ia mengkhawatirkan kondisi jari Hee Jin yang terluka karena berlatih dengan keras. Ia menyarankan supaya dia pergi ke rumah sakit. Namun acara makan mereka harus rusak karena Gook Du mendapatkan panggilan dari Detektif Kim yang mengabarkan jika Polisi yang menjaga Bong Soon di tikam.

“Katamu kau suka polisi itu? Cinta sebelah pihak, kan? Kau yang suka duluan?” tanya Min Hyuk.

Sekali lagi Bong Soon heran, bagaimana dia bisa tahu. Min Hyuk mengaku sudah bisa menebak dari gelagatnya. Dia terlihat seperti tipe yang memiliki perasaan yang tak terbalas. Ia menyarankan agar Bong Soon membuat Gook Du cemburu padanya. Biasanya pria akan memberikan kesempatan pada wanita yang bisa membuat mereka bertanya-tanya akan perasaannya sendiri.

Bong Soon agak tertarik dengan ajakannya kali ini. Min Hyuk sekarang tak bisa menunjukkan sikap sok-nya lagi, dia merengek pada Bong Soon kalau dia takut sendirian. Bong Soon akhirnya sepakat, tapi dia mau bayarannya ditambah uang lembur.

Min Hyuk melongo, terdengar suara uang receh dalam otaknya. Wkwkwk

Sesampainya dirumah Min Hyuk, Min Hyuk bertanya apa dia lapar. Bong Soon cengengesan mengelus perutnya yang sudah keroncongan. Tak lama kemudian, mendapatkan telfon dari Gook Du yang menanyakan keberadaannya. Dia mau datang kesana dan meminta alamat rumahnya.

Min Hyuk menghidangkan ramen buatannya. Bong Soon melihat bungkus kue pie walnut yang masih ada dimeja, apa kuenya enak? Min Hyuk mengiyakan, kapan-kapan kesana lagi yah.

“Kurasa rasanya biasa-biasa saja.”

“Padahal kau yang mengajakku ke tempat itu.”

“Karena itu toko orangtuaku. Orang yang kemarin itu adalah Ayahku.”

Min Hyuk kaget, kenapa ga memberitahukannya sejak awal. Bong Soon balik tanya, memangnya kenapa. Min Hyuk mengaku tak mau datang kesana lagi. Bong Soon sudah bisa menebak jalan pikiran bosnya, maka dari iru kemarin dia sengaja tak mengatakannya.

Min Hyuk menyantap mie-nya, dia meringis merasa aneh karena malam-malam makan ramen dengan wanita. Bong Soon ga nyambung, memangnya laki-laki harus makan mie ramen dengan laki-laki kalau malah hari?

Min Hyuk langsung mengatai Bong Soon yang pasti belum pernah pacaran. Bong Soon berubah sikap, menyilangkan kaki dan menautkan rambutnya dibelakang telinga “Aku kan seperti fehomme fatale.”

Min Hyuk ngakak, apa sekarang dia menggabung kata femme fatale dengan homme fatale. Dia menyindir Bong Soon yang pintar dalam main kata. Bong Soon berubah cemberut, dia memang agak kesulitan dengan kata-kata empat suku kata. Tapi dia memintanya supaya tak menganggapnya bodoh hanya karena hal itu.

“Terserah. Makanlah.”

Bel rumah Min Hyuk berdering, Min Hyuk bergegas menuju intercom dan membiarkan tamunya masuk. Gook Du masuk dengan tampang tidak suka, dia bertanya pada Bong Soon, tempat apa ini? Siapa dia? Ia mengajaknya untuk begegas pergi dan menngganding tangan kanannya.

“biarkan dia disini. Aku membutuhkannya malam ini.” Min Hyuk menahan tangan kiri Bong Soon.

Mereka berdua bertatapan sengit. Gook Du berniat membawa Bong Soon pulang sedangan Min Hyuk bersikukuh untuk membuatnya menginap disana.

Dua episode drama ini menarik banget buat ku! Dan seleraku banget drama macam ini 😀 Soalnya ada romance -nya tapi ada unsur nyereminnya juga. Dan kabar bahagianya.. drama ini dapet rating 3+ % untuk episode pertamanya dan episode 2 nya 5.7% untuk episode keduanya. Ini drama dengan rating tertinggi untuk jtbc.

Ya ga salah sih, dramanya bagus. Rekomended buat yang masing menimang-nimang mau nonton atau enggak. Semuanya berjalan sangat cepat di episode 1 dan 2 -nya, sama sekali ga bikin bosen sampai ga sadar kalau drama ini udah nyampe ujung episode.

Di episode 2 ini, kayaknya penulis emang agak ngasih clue buat bikin kayak Min Hyuk jadi pelaku. Dengan dia gunain hoodie item pas latihan tinju sama dia bilang kalau dia pengen jadi ‘pelaku’ semenjak kecil. Cuma sayangnya, yakin deh kalo dia bukan pelaku.

Kasus ‘penculikan wanita’ itu kayaknya gak akan berakhir begitu saja. Apalagi di bingkai yang dipersiapkan pelaku, dia udah nyediain banyak. Semoga aja terungkapnya belakangan, dan dengan pelaku yang ga terduga. (di soompi ada yang nebak kalau pelakunya adiknya Bong Soon. Masuk akal kah?)

Dan yang bikin penasaran adalah latar belakang dari Min Hyuk. Kenapa dia benci banget yang namanya polisi dan ingin jadi seorang pelaku. melihat dari gaya dia saat berlatih sama samsaknya, sebenernya dia kayak bukan tipikal pria lemas yang butuh perlindungan gitu. Tapi kenapa juga dia pengin Bong Soon untuk tetap menjaganya? (Jangan bilang dia cinta pertamanya, semanjak adegan bus episode 1)

Incoming search terms:

Sinopsis Strong Woman Do Bong Soon Episode 2 | afgan19 | 4.5